Jumat, 06 Mei 2011

Cerpen Remaja

Air mata kepedihan

Ketika manusia senantiasa akan pergi dan lari dari kehidupan yang akan bisa membelenggunya, seolah tak menentu apa yang ada dalam diri dan benaknya, tak juga akan bisa melakukan apa yang akan ada dalam dirinya, perasaan yang senantiasa sirna akan membuat dirinya lenyap terbawa dalam lamunan yang memilukan, semilirnya angin di pagi hari senantiasa selalu menyelimuti setiap manusia yang dapat rasakannya.
Begitu halnya dengan Doni, aku merasakan perasaan yang begitu membelenggu setiap jejak ayunan langkahku, setiap apa yang ku lakukan selalu buat semua Orang menderita, ”ujar Doni”. Ketika suara Ibu Aminah yang tak lain Ibu yang selama ini jadi tameng dalam hidupnya memanggilnya dengan lantang, kemudian ia merasakan lamunan itu buyar serta merta semuanya hilang dalam benaknya, bentar Bu ….” Jawab Doni”.
Sesegera langsung Doni kemudian melangkahkan jejak langkah kakinya, untuk menemui Ibunya, Tanpa pikir panjang seketika itu ia beranjak dari tempat tidurnya yang senantiasa ia ungkapkan keluh kesah selama ini ia rasakan akan ketidak mampuannya dan tidak seimbangnya apa yang ada dalam benak dia.
Setelah itu ia rasakan jutaan yang selalu ada dalam benaknya senantiasa membuat dia tidak percaya akan rasa yang ia hadapi selama ini terjadi. Tak seorang pun yang bisa mencerna apa yang ada dikedua otaknya itu ketika mendegar nama Bapak nya itu.
Ayo anak ku, temuilah Bapakmu yang sangat merindukanmu terus, maklum ketika kedua Orang Tua nya cerai dan berpisah, Doni merasakan kurangnya kasih sayang terutama dari Bapak nya tersebut, dan selama itu pula ia sadar bahwa Ibu nya yang banting tulang menghidupi segala kebutuhan baik di Sekolah maupun di kehidupannya.
Makanya pada waktu Ibu nya mengatakan bahwa Bapaknya merasa rindu akan padanya, langsung saja ia langsung berontak seketika, “Ia seraya berkata”, Bu..Bapak senantiasa kemana saja selama ini, kalau misalkan ia kangen sama anaknya ini ia pasti menemui ku, tapi apa sebaliknya?ia seolah hanya mengucap dan tak bisa memegang perkataan yang ia utarakan pada Ibu.
hai,anak ku kamu juga pasti tahu sebab muasabnya Bapak mu itu pergi tinggalin kita berdua, padahal dulu kamu juga masih kecil yang tak mengerti akan apa yang kita alami saat ini, pertama-tama Ibu juga tidak ikhlas dan tak rela yang harus membesarkanmu seorang diri, tapi karena perbuatan Bapakmu yang main serong sama janda genit di kampung sebelah, Ibu mengikhlaskannya, apa lagi janda itu hamil yang sekarang jadi istrinya.
Makanya Bu, jangan ingat-ingat kelakuan yang selama Ini Bapak perbuat kepada kita, dan anggap saja Bapak itu sudah tiada,” kata Doni”.
Anakku jangan lah dirimu ini menjadi orang yang benci sama Bapakmu, meskipun selama ini perbuatan Bapakmu bisa dibilang kayak binatang, gitu juga Bapakmu, karena tanpa tiadanya dia pasti kamu juga tak kan ada< mencoba menenangkan amarah Doni kepada Bapaknya>.
Ya, sudahlah Bu, yang penting kalau Bapak rindu akan kita berdua pasti dia menemui kita disini, dan asal Ibu ingat sampai kapanpun Doni tidak akan memaafkan perbuatannya .
Astagfirullah, alangkah jeleknya perbuatan mu mas, sampai-sampai anak kita tak memaafkan semua kesalahanmu, mudah-mudahan Doni bisa menerima tindak-tanduk Ayahnya yang tidak terpuji ini ” ucap Ibu”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar